Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sport Tourism Madura, Santri Hingga Pelajar Jawa Timur Ikut Ramaikan RS BHC Run 2026 di Sumenep
Advertisement . Scroll to see content

22 Tahun Menanti, Pasangan Asal Sumenep Ini Akhirnya Dikaruniai Bayi Kembar, Kisahnya Bikin Haru

Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:13 WIB
  • author Rahmat Ilyasan
22 Tahun Menanti, Pasangan Asal Sumenep Ini Akhirnya Dikaruniai Bayi Kembar, Kisahnya Bikin Haru
Setelah 22 tahun menanti buah hati, pasangan asal Sumenep akhirnya dikaruniai bayi kembar melalui program IVF. Kisah perjuangan melawan keterbatasan medis ini menjadi inspirasi bagi pasangan yang mendambakan momongan. Foto iNewsSurabaya.id/ilyas

Menurut dr Benny, kondisi itu menunjukkan cadangan sel telur Mina sudah sangat rendah.

"AMH 0,1 berarti cadangan telurnya sangat rendah, sekitar 15 sampai 20 kali di bawah normal. Kondisinya bahkan sudah mengarah ke premenopause," jelasnya.

Sebelum mengikuti program IVF, Mina juga harus menjalani tindakan laparoskopi untuk memperbaiki saluran telurnya.

Selama sekitar delapan bulan, Yusuf dan Mina menjalani seluruh tahapan program IVF dengan pendampingan tim medis.

Dari seluruh proses tersebut, hanya diperoleh dua embrio yang dinilai berkualitas baik. Keduanya kemudian ditanam pada hari kelima.

"Kami menanam dua embrio pada hari kelima. Alhamdulillah, keduanya berkembang menjadi kehamilan," ungkap dr Benny.

Karena Mina telah berusia 41 tahun dan mengandung bayi kembar, kehamilan berlangsung dalam pengawasan intensif. Meski sempat menjalani perawatan saat usia kandungan memasuki tujuh hingga delapan bulan, kondisi ibu dan kedua janin tetap terjaga hingga kehamilan mencapai usia sekitar 36–37 minggu.

Pada 2 Juni 2026, Ryan lahir lebih dahulu, disusul adiknya, Raina. Tangis keduanya menjadi jawaban atas doa yang dipanjatkan Yusuf dan Mina selama 22 tahun.

Kasus Pertama Sepanjang Karier Dokter

Bagi dr Benny, kisah Yusuf dan Mina menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menangani pasien fertilitas.

"Kasus dengan penantian 22 tahun, AMH 0,1, kemudian berhasil hamil bayi kembar, ini pertama kali saya alami," katanya.

Ia menegaskan bahwa peluang untuk memperoleh kehamilan tetap terbuka meski kondisi medis pasien tidak ideal. Namun, ia mengingatkan pasangan yang merencanakan kehamilan agar tidak menunda pemeriksaan kesuburan, terutama setelah usia memasuki 35 tahun.

"Semakin bertambah usia, kualitas sel telur dan sperma akan menurun. Jangan ragu berkonsultasi agar peluang mendapatkan kehamilan tetap terjaga," pesannya.

Kini suasana rumah Yusuf dan Mina berubah total. Penantian panjang yang dulu dipenuhi kesunyian berganti dengan tangis, tawa, dan kesibukan merawat dua bayi yang menjadi anugerah terbesar dalam hidup mereka.

Bagi Yusuf, seluruh perjuangan selama 22 tahun terbayar lunas. Ia pun menyampaikan pesan sederhana bagi pasangan yang masih berjuang mendapatkan buah hati.

"Tetap semangat. Jangan menyerah," ucapnya.

Kisah Yusuf dan Mina menjadi bukti bahwa harapan tak selalu berakhir sia-sia. Dengan ikhtiar, pendampingan medis yang tepat, serta keyakinan yang terus dijaga, impian untuk memeluk buah hati tetap memiliki peluang menjadi kenyataan.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut