Nyaris Lolos ke Afrika, 3,4 Ton Merkuri Senilai Rp17,5 M Disembunyikan di Balik Tumpukan Keramik
Dalam dokumen, eksportir mencantumkan muatan berupa 900 karton keramik dengan berat total 11.000 kilogram. Namun, setelah diperiksa, petugas hanya menemukan 826 karton keramik, atau terdapat selisih 74 karton.
Kecurigaan petugas terbukti ketika di balik susunan palet keramik ditemukan 251 botol plastik dan 71 jeriken berisi cairan berwarna perak yang diduga kuat merupakan merkuri cair. Seluruh wadah tersebut disembunyikan dengan rapi dan dilapisi aluminium foil untuk mengelabui pemeriksaan.
Merkuri merupakan logam berat yang kerap digunakan dalam proses amalgamasi pada pertambangan emas skala kecil. Meski dinilai murah dan mudah digunakan, zat ini memiliki tingkat toksisitas tinggi yang dapat mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan manusia akibat paparan jangka pendek maupun jangka panjang.
Karena risikonya yang besar, perdagangan merkuri di tingkat internasional diawasi secara ketat melalui Konvensi Minamata tentang Merkuri, yang telah diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan ekspor ilegal tersebut, termasuk asal-usul merkuri dan pihak yang bertanggung jawab atas pengiriman ke Afrika Barat.
Editor: Arif Ardliyanto