Rahasia Pengusaha Surabaya Bangun 4 Gerai Minuman dalam 3 Tahun, Kuncinya Ternyata Bukan Modal Besar
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Bisnis minuman siap saji di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Di tengah persaingan yang semakin ketat, produk dengan harga terjangkau masih menjadi pilihan utama masyarakat. Kondisi ini juga menjadi pertimbangan penting bagi para pelaku usaha saat memilih merek waralaba yang dinilai memiliki peluang berkembang dalam jangka panjang.
Salah satunya adalah Soffie, pengusaha asal Surabaya yang sebelumnya lebih dulu berkecimpung di bisnis roti dan kue. Meski belum memiliki pengalaman di industri minuman, ia melihat peluang besar dari tingginya minat masyarakat terhadap minuman siap saji.
Sebelum memutuskan bermitra dengan Mixue, Soffie mengaku mempelajari berbagai merek yang sudah lebih dulu hadir di pasar. Menurutnya, keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kesesuaian harga dengan daya beli konsumen.
"Konsumen kita memperhatikan kualitas, tetapi juga peka terhadap harga. Jadi yang saya nilai bukan hanya produknya enak atau tidak, melainkan apakah harga, jenis menu, dan sasaran pembelinya nyambung satu sama lain," ujar Soffie.
Pertimbangan tersebut membuatnya memilih bisnis yang menyasar segmen pasar massal. Strategi ini dinilai mampu menghadirkan volume penjualan yang lebih stabil karena produk dapat dijangkau berbagai kalangan, mulai dari pelajar, karyawan hingga keluarga.
Selain itu, gerai tidak harus berada di pusat perbelanjaan besar. Lokasi di kawasan permukiman maupun dekat sekolah dinilai tetap memiliki potensi pasar yang tinggi dengan biaya operasional yang lebih efisien.
Keputusan tersebut terbukti membuahkan hasil. Gerai pertamanya disebut mampu mencapai titik impas atau break even point (BEP) dalam waktu sekitar 10 bulan. Hampir tiga tahun kemudian, Soffie telah mengelola empat gerai dengan dukungan 14 karyawan.
"Yang bertambah bukan cuma jumlah gerai, tetapi kemampuan mengaturnya. Saya menambah gerai sesuai kemampuan mengelola," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto