Nyaris 50 Tahun, Pengusaha Garam Ini Masih Tangguh, Atlet Eks Kazakhstan Berhasil Ditaklukkan
Strategi tersebut terbukti efektif. Tendangan yang dilepaskannya beberapa kali mampu memberikan tekanan kepada lawan hingga akhirnya Yohannes keluar sebagai pemenang.
Meski berhasil menang, ia mengaku harus menerima konsekuensi dari kerasnya pertandingan. Sepulang dari arena, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi memar akibat benturan selama duel berlangsung.
"Waktu pulang saya lihat di cermin, tangan, kaki, lutut sampai tulang semuanya memar. Tetapi itulah bagian dari olahraga ini. Kami memang dilatih untuk memiliki fisik dan mental yang kuat," katanya.
Lebih jauh, Yohannes berharap olahraga bela diri, khususnya Kyokushin, semakin mendapat perhatian pemerintah. Menurutnya, pembinaan karate full contact mampu menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk membangun karakter, disiplin, serta rasa percaya diri.
Ia menilai banyak anak yang menjadi korban perundungan justru mampu bangkit setelah mengikuti latihan bela diri.
"Saya berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada perguruan yang aktif membina atlet. Banyak anak yang awalnya minder atau menjadi korban bullying, setelah berlatih karate mereka menjadi lebih percaya diri. Kami bukan mengajarkan mereka berkelahi, tetapi mengajarkan disiplin, keberanian, dan menghormati orang lain," tegas Yohannes.
Menurut Yohannes, semakin banyak kompetisi dan dukungan terhadap perguruan aktif, semakin besar pula peluang lahirnya atlet-atlet Kyokushin Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Editor : Arif Ardliyanto