get app
inews
Aa Text
Read Next : Peternak Gresik Ubah Limbah Kambing Jadi Pupuk, Cara Warga Bikin Usaha Bernilai Ekonomi

Tak Lagi Capek 3 Jam Sangrai, Produksi Abon Ikan Asap Kenjeran Kini Dibantu Mesin Lebih Canggih

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:17 WIB
header img
Produksi Abon Ikan Asap (ASIAP) di Kenjeran Surabaya mulai menggunakan teknologi tepat guna. Waktu produksi dipangkas dan kapasitas ditargetkan meningkat. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Produk ASIAP tidak muncul begitu saja. Gagasan membuat abon ikan asap berawal dari potensi ikan asap yang banyak ditemukan di kawasan Kenjeran.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FT UKWMS, Ir. Luh Juni Asrini, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan ide pengembangan produk tersebut berangkat dari pengamatan mitra terhadap aktivitas penjualan ikan asap di kawasan Kenjeran.

“Berawal dari potensi ikan asap Kenjeran. Ide tersebut muncul dari pengamatan mitra terhadap penjual ikan asap yang ada di wilayah tersebut,” kata Luh Juni.

Hal serupa disampaikan Yeni. Menurutnya, keberadaan penjual ikan asap di Kenjeran menjadi inspirasi awal untuk mengembangkan produk bernilai tambah.

“Abon ikan asap ini saya terpikirkan itu dari penjual ikan asap yang ada di Kenjeran,” ungkap Yeni.

Namun, perjalanan produksi ASIAP tidak lepas dari berbagai kendala.

Sebelum mendapat bantuan teknologi, Yeni harus melakukan proses penirisan minyak secara manual menggunakan kain. Proses sangrai abon juga membutuhkan waktu panjang dan cukup menguras tenaga.

Bahkan, untuk satu kali proses produksi, pengsangraian dapat menghabiskan waktu hingga sekitar tiga jam.

“Dalam memproduksi hasil usaha rumah tangga itu, saya mengalami beberapa kesulitan dalam proses produksi sebelum-sebelumnya. Karena sebelumnya mungkin saya memproduksinya secara manual, tidak ada alat yang dapat membantu. Proses pengsangraiannya kesulitan karena dikerjakan sendiri dan memakan waktu tiga jam. Itu membuat saya capek,” jelas Yeni.

Spinner Pangkas Waktu Produksi Abon

Salah satu teknologi yang kemudian diterapkan adalah spinner. Alat ini digunakan untuk membantu mengeluarkan minyak dari abon setelah proses pengolahan.

Penggunaan alat tersebut membawa perubahan pada proses produksi. Jika sebelumnya proses sangrai membutuhkan waktu sekitar tiga jam, kini waktunya dapat ditekan menjadi sekitar satu setengah jam.

“Alhamdulillah dengan terbantukan alat TTG ini bisa memangkas waktu sangrai abon menjadi hanya 1,5 jam. Tidak lama-lama seperti yang lalu tiga jam,” tutur Yeni.

Tidak hanya persoalan waktu. Spinner juga membuat proses penirisan minyak menjadi lebih efektif.

Sebelum menggunakan alat, minyak pada abon ditiriskan menggunakan kain secara manual. Cara tersebut membuat sebagian minyak masih tertinggal dan terlihat pada kemasan.

“Jadi sebelumnya saya itu menggunakan manual semua, tidak alat bantu. Hanya kain putih bersih, untuk meniriskan minyaknya menggunakan kain tadi. Oleh karena manual sehingga kurang berdampak pada packaging-nya yang masih banyak terlihat banyak minyak di dalamnya. Setelah menggunakan spinner itu minyaknya banyak yang keluar dari ditiriskan,” jelasnya.

Menurut mitra, perubahan juga terlihat dari berat produk setelah penirisan. Produk yang sebelumnya memiliki massa sekitar 800 gram dapat berkurang menjadi sekitar 600–700 gram setelah minyak ditiriskan.

Kemasan Divakum agar Produk Lebih Awet

Teknologi lain yang diberikan kepada mitra adalah Vacuum & Sealer DZ-250X WIRAPAX. Peralatan tersebut digunakan untuk mengeluarkan udara dari kemasan sekaligus melakukan penyegelan.

Bagi Yeni, penggunaan vacuum sealer menjadi bagian penting dalam memperbaiki proses pengemasan ASIAP.

Kemasan yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam menjaga daya simpan kini dapat dibuat lebih kedap udara.

“Setelah itu karena adanya vacuum sealer ini tadi juga sangat alhamdulillah sangat terbantukan karena kedap udara. Jadi awalnya yang produksi abon ikan asap ini hanya bisa dua bulan, sekarang bisa lebih lama,” ujarnya.

Yeni juga berharap penggunaan alat tersebut dapat membantu mencegah munculnya jamur pada produk selama penyimpanan.

“Jadi lebih bagus kemasannya, seperti itu sangat terbantukan,” tambahnya.

Target Produksi Naik dari 3 Kg Menjadi 15 Kg Ikan Tuna

Dampak penerapan teknologi tidak hanya dirasakan pada proses produksi. Mitra juga mulai melihat peluang untuk meningkatkan kapasitas usaha.

Sebelum memperoleh peralatan TTG, bahan baku yang digunakan dalam satu proses produksi sekitar tiga kilogram ikan tuna.

Kini, Yeni menargetkan penggunaan bahan baku dapat meningkat hingga 10–15 kilogram ikan tuna.

“Saya akan mengembangkan produksi abon ikan asap ini lebih banyak, yang awalnya jumlahnya dari 3 kg ikan tunanya menjadi 10 kg atau 15 kg seperti itu karena sudah ada alat yang membantu saya dalam memproduksi abon ikan asapnya,” kata Yeni.

Dari sisi jumlah kemasan, kapasitas produksi yang sebelumnya berada di kisaran 10–15 kemasan juga ditargetkan meningkat menjadi sekitar 20–25 kemasan.

Peningkatan tersebut ditopang oleh proses penirisan minyak yang lebih efisien serta pengemasan menggunakan vacuum sealer.

Dengan demikian, teknologi tepat guna tidak sepenuhnya menggantikan peran tenaga manusia. Sebaliknya, teknologi digunakan untuk membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar.

UKWMS Dampingi Mutu dan Keamanan Pangan

Program pengabdian masyarakat FT UKWMS ini tidak berhenti pada pemberian alat produksi.

Tim juga melakukan identifikasi kebutuhan mitra, pengujian teknologi, pendampingan, serta pelatihan kepada kelompok PKK dan pelaku IRT Abon Ikan Asap.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilaksanakan pada 17 Agustus 2026 dengan materi yang berkaitan dengan mutu, keamanan pangan, teknologi tepat guna, dan standardisasi produksi.

Tim pengabdian diketuai Ir. Luh Juni Asrini, S.Si., M.Si., Ph.D. dengan anggota Ir. Yuliati, S.Si., M.Si., IPU, ASEAN Eng. serta Ir. Dian Trihastuti, ST, MEng, PhD, CSCM, IPM.

Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa, yakni Jesen Oktavian Siswanto dan Samuel Aquinas.

Pendampingan diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan produksi yang selama ini dihadapi mitra, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan usaha ASIAP secara berkelanjutan.

Abon Ikan Asap Jadi Produk Bernilai Tambah

Bagi Yeni, pendampingan dan penerapan teknologi tersebut menjadi pengalaman penting dalam mengembangkan usaha berbasis olahan ikan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada dosen dan mahasiswa UKWMS yang terlibat dalam proses pengembangan ASIAP.

“Terima kasih untuk ibu dosen, dari Bu Juni, Bu Dian dan Bu Yuli sudah sangat membantu dalam pengembangan produksi abon ikan asap ini. Serta mahasiswa dari UKWMS, terima kasih banyak mas-mas dan mbaknya yang sudah membantu dalam mengembangkan produksi abon ikan asap ini,” ungkap Yeni.

Pengembangan ASIAP menunjukkan bagaimana potensi bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah melalui kombinasi keterampilan pelaku usaha dan teknologi.

Bagi usaha rumahan di kawasan Kenjeran, penerapan spinner dan vacuum sealer menjadi langkah untuk memperbaiki proses produksi sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas.

Ke depan, pendampingan teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu ASIAP berkembang dari sisi efisiensi produksi, kualitas, pengemasan, hingga kemampuan memenuhi permintaan pasar.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut