Papi Umba Pakocir, Catatan Pamungkas dari Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama
Mari kita mundur sejenak ke Muktamar Ke-34 di Lampung. Hampir semua orang tahu, kekalahan Buya Said Aqil Siradj waktu itu terjadi karena PKB dan Gus Muhaimin Iskandar memilih abstain, tidak melibatkan partai dan jaringannya untuk mendukung beliau. Buya Said kalah.
Di Tambakberas, ceritanya sempat berbeda. Gus Muhaimin bersama kekuatan PKB-nya bergerak serius menata pemenangan.
Semua optimistis Buya Said Aqil akan menjadi Rais Aam. Dan optimisme itu berdasar: dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi, Buya Said masuk sembilan besar dengan 273 suara, duduk sebagai salah satu dari sembilan kiai yang berhak menentukan siapa Rais Aam.
Sampai kemudian, pada malam yang paling menentukan, Gus Muhaimin tiba-tiba hilang dari arena. Ditelepon tidak diangkat. Di-WA (WhatsApp) gak dibalas. Belakangan diketahui beliau sedang berada di atas pesawat, dalam perjalanan umrah.
Umrah tentu mulia. Tidak ada satu pun warga NU yang pantas mencelanya.
Tetapi meninggalkan gelanggang pada malam pemungutan suara, ketika ribuan orang sedang menunggu, menyisakan satu pertanyaan besar yang sampai hari ini belum terjawab: mengapa harus malam itu?
Saya perlu menegaskan, saya bukan pasukan Gus Muhaimin. Saya hanya warga NU, kiai kampung, yang ingin NU merdeka memilih pemimpinnya tanpa intervensi, supaya kita bisa berlomba dalam kebaikan dengan saudara-saudara kita di Muhammadiyah.
Saya sudah melemparkan gagasan itu, mengolahnya menjadi wacana, dan menyajikannya kepada warga NU di seluruh Indonesia. Gagasan itu disambut, wacana itu menggema.
Sedihnya, saya hanyalah kiai kampung. Saya tidak punya suara. Saya tidak punya pasukan. Saya tidak punya kemampuan menggerakkan dan mengawal suara PCNU dan PWNU di seluruh Indonesia.
Ada yang punya itu. Salah satunya Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar. Partai yang dilahirkan NU.
Dan wajar NU melahirkan PKB, sebab NU punya jutaan anak kandung yang menjadi politisi; saluran mereka adalah PKB, bukan berpolitik di dalam NU.
Syahdan, setelah nyaris menang, yang terjadi di Lampung terulang di Jombang. Dulu penguasa memangsa Gus Muhaimin sehingga beliau abstain.
Kini penguasa memangsa Gus Muhaimin sehingga beliau hilang. Dua penguasa, satu mangsa, satu hasil.
Buya Said Aqil Siradj gagal menjadi Rais Aam.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar