Air PDAM Surabaya Terkontaminasi Polutan, DPRD Bongkar Potensi Rp400 Miliar Hilang Tiap Tahun
Dia juga mengimbau pelanggan tidak langsung mengonsumsi air yang masih terlihat keruh sampai kondisi kembali normal.
“Kami memohon maaf atas kendala kualitas yang dirasakan pelanggan, dan kami imbau air yang masih keruh tidak langsung dikonsumsi hingga air kembali normal,” ujarnya.
Perumda Air Minum Surya Sembada menerapkan sejumlah strategi untuk mempercepat proses normalisasi kualitas air di wilayah terdampak.
Salah satunya dengan menambahkan bahan kimia dan karbon aktif pada unit pengolahan. Karbon aktif digunakan untuk membantu mereduksi bau dan warna sekaligus menyerap senyawa polutan yang terbawa air baku.
Petugas juga melakukan pengurasan secara bertahap pada unit instalasi, mulai dari sedimentasi hingga filter pasir. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pergantian air yang terdampak dengan air hasil olahan baru.
Di jaringan distribusi, petugas melakukan flushing dan wash out. Pipa pembuangan dibuka dan saluran yang memasok rumah tandon maupun pompa utama, termasuk kawasan Ketegan dan Putat Gede, turut dilakukan pembilasan.
Koordinasi dengan Perum Jasa Tirta 1 juga terus dilakukan untuk menambah debit gelontoran air baku dari kawasan hulu. Dengan cara tersebut, konsentrasi material pencemar diharapkan semakin berkurang.
Sebagai langkah antisipasi selama masa pemulihan, Perumda Air Minum Surya Sembada juga menyiagakan armada truk tangki untuk memberikan bantuan air bersih secara gratis kepada pelanggan di wilayah terdampak.
DPRD Surabaya Bongkar Potensi Kehilangan Rp400 Miliar
Di tengah persoalan kualitas air tersebut, Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Muhammad Machmud menyoroti masalah lain dalam tubuh PDAM Surya Sembada.
Dalam pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2026, Machmud mengungkap tingkat kehilangan air PDAM disebut berada di kisaran 36 persen setiap tahun.
Menurutnya, air yang sudah diproduksi dan mengalir tetapi tidak menghasilkan pendapatan tersebut jika dihitung secara finansial nilainya mencapai sekitar Rp400 miliar.
“Di dalam pembahasan anggaran perubahan keuangan juga terungkap ada kebocoran air PDAM setiap tahun itu 36 persen. Jadi produksi air PDAM yang mengalir dan terpakai tapi tidak jadi uang itu 36 persen dari produksi,” kata Machmud, Senin (7/9/2026).
Machmud meminta persoalan tersebut menjadi perhatian serius jajaran direksi Perumda Air Minum Surya Sembada, terutama jajaran direksi baru.
Ia menilai tingkat kehilangan air harus menjadi salah satu ukuran keberhasilan manajemen dalam memperbaiki kinerja perusahaan.
“Kalau dikonversi 36 persen itu menjadi uang, maka temunya Rp400 miliar. Setiap tahun uang itu hilang, ya enggak tahu ke mana,” ujarnya.
Menurut Machmud, kehilangan air bisa disebabkan berbagai faktor. Mulai dari pencurian air, kebocoran jaringan perpipaan, hingga faktor lain yang perlu ditelusuri secara lebih mendalam.
Machmud berharap tingkat kehilangan air PDAM Surya Sembada dapat ditekan jauh di bawah angka saat ini. Ia bahkan menyebut angka sekitar 15 persen sebagai target yang perlu dikejar.
“Ini yang harus ditelusuri oleh direktur yang baru. Ini tantangan buat direktur yang baru. Ukurannya di situ. Kalau bisa tinggal 15 persen, maka perusahaan itu akan menjadi baik,” tegasnya.
Dia mengakui kinerja PDAM Surya Sembada selama ini sudah tergolong baik, termasuk dalam memenuhi kewajiban pembayaran dividen. Namun, menurutnya, masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kinerja perusahaan apabila kehilangan air dapat ditekan.
“Sekarang PDAM sudah baik. Tetapi akan lebih baik lagi kalau misalnya kebocoran bisa ditekan. Dividen sudah dipenuhi, ya sudah dipenuhi. Tetapi itu harus jauh lebih baik,” katanya.
Tak hanya persoalan kebocoran jaringan, Komisi B DPRD Surabaya juga menyoroti keberadaan sistem pengelolaan air mandiri di sejumlah kawasan perumahan elite.
Machmud menyebut terdapat kawasan perumahan yang memiliki instalasi pengolahan air sendiri. Air tersebut kemudian dikelola dan dijual kepada warga yang tinggal di dalam kawasan tersebut.
Menurut dia, kondisi itu berpotensi menjadi salah satu sumber hilangnya potensi pendapatan Perumda Air Minum Surya Sembada.
“Salah satu potensi yang hilang dari PDAM itu adanya perumahan-perumahan elite yang menjadikan warga sebagai pelanggannya sendiri,” ungkap Machmud.
Ia mengatakan pengelola kawasan memiliki instalasi pengolahan air yang dikelola secara mandiri. Air kemudian disalurkan kepada warga dengan tarif yang ditentukan oleh pengelola.
“Mereka punya IPAL, instalasi penjernih air minum. Itu dia punya sendiri, dikelola sendiri, dijual sendiri, tentu dengan tarif yang beda,” katanya.
Karena itu, Komisi B DPRD Surabaya berencana memanggil para pengelola air mandiri tersebut untuk meminta penjelasan sekaligus membahas potensi pendapatan yang selama ini tidak masuk ke PDAM.
“Inilah potensi kehilangan pendapatan dari PDAM. Harusnya ini segera diambil. Kami akan undang nanti di Komisi B para pengelola air sendiri yang dijual sendiri ke warganya,” pungkas Machmud.
Editor: Arif Ardliyanto