Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Polemik Jalan Taman Timur Surabaya Makin Panas, Komisi C Ungkap Fakta Ini Saat Pertemuan
Advertisement . Scroll to see content

Usai Ledakan Pakuwon City, DPRD Surabaya Soroti SLF, 2.000 Lebih Unit Usaha Tak Ada Sertifikat

Selasa, 06 Oktober 2026 | 13:51 WIB
  • author Trisna Eka Adhitya
Usai Ledakan Pakuwon City, DPRD Surabaya Soroti SLF, 2.000 Lebih Unit Usaha Tak Ada Sertifikat
Ledakan Pakuwon City Surabaya menyoroti persoalan SLF bangunan. DPRD meminta Pemkot memperketat pengawasan dan penegakan SLF demi keselamatan warga. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Aning menegaskan, persoalan SLF tidak hanya berkaitan dengan bangunan tertentu. Pengawasan harus dilakukan terhadap berbagai jenis tempat usaha yang setiap hari didatangi masyarakat.

Mulai dari pusat perbelanjaan, rumah makan, perkantoran hingga unit usaha lainnya dinilai perlu mendapatkan perhatian dari sisi kelayakan dan keselamatan bangunan.

"Ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah kota. Dengan terjaminnya keselamatan seluruh unit usaha yang ada di Kota Surabaya, baik itu di mal, kemudian rumah makan, maupun di kantor-kantor yang tersebar di seluruh Kota Surabaya," katanya.

Komisi C DPRD Surabaya juga berencana kembali meminta penjelasan kepada jajaran Cipta Karya mengenai perkembangan penerapan SLF di Kota Surabaya.

Pembahasan tersebut rencananya turut dikaitkan dengan pembahasan APBD 2027. DPRD meminta Pemkot Surabaya memiliki catatan yang rinci mengenai jumlah bangunan yang sudah mengantongi SLF, bangunan yang belum memenuhi persyaratan, serta perkembangan proses penyelesaiannya.

"Kita akan selipkan untuk progres SLF yang ada di Kota Surabaya. Pemerintah kota sudah harusnya mempunyai record yang ketat untuk jumlahnya, kemudian detail pelaksanaannya dan detail penegakannya," tutur Aning.

Aning mengungkapkan, dalam pembahasan sebelumnya DPRD pernah menerima data mengenai lebih dari 2.000 unit usaha yang menjadi perhatian dalam persoalan SLF.

Namun, pada periode tersebut, baru sekitar 20-30 persen yang disebut telah menyelesaikan proses SLF. Pemerintah kota ketika itu memberikan waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Meski demikian, Aning mengaku hingga kini belum mendapatkan gambaran progres yang menurutnya cukup jelas mengenai penyelesaian kewajiban SLF tersebut.

Menurut Aning, pemerintah kota perlu menjaga keseimbangan antara percepatan perizinan dan kepentingan keselamatan masyarakat.

Dia menilai proses penerbitan PBG untuk mendukung aktivitas pembangunan dan investasi memang penting. Namun, setelah bangunan berdiri dan digunakan, aspek kelayakan fungsi serta keselamatan juga harus mendapatkan pengawasan yang sama seriusnya.

"Jadi sepertinya pemerintah kota masih mengejar perizinan PBG yang masuk untuk meningkatkan investasi. Namun terkait dengan keselamatan ini mungkin masih belum menjadi fokus utama," ujarnya.

Aning mengingatkan, pemerintah kota tidak boleh hanya melihat aspek retribusi atau pendapatan dari proses perizinan. Keselamatan warga yang menggunakan bangunan harus menjadi bagian utama dari pengawasan.

"Tidak hanya mengejar retribusi, pendapatan dan yang lain, tapi juga keselamatan warga harus diutamakan," kata Aning.

Dia berharap peristiwa ledakan di kawasan Pakuwon City menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut penyebab ledakan, tetapi juga prosedur perizinan, pengawasan bangunan hingga mekanisme penegakan aturan keselamatan.

"Keselamatan warga itu harus menjadi nomor satu. Pemerintah Kota Surabaya saya kira harus kembali mengevaluasi sejelas-jelasnya, sedetail-detailnya, pemantik, pemicu sekaligus juga evaluasi terkait dengan prosedur birokrasi perizinan sehingga keselamatan warga Kota Surabaya ini bisa terjamin," pungkasnya.

Sebelumnya, ledakan keras terjadi di kawasan Perumahan San Antonio, Pakuwon City, Jalan Kalisari Utara 1, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Selasa (6/10/2026) sekitar pukul 07.11 WIB.

Peristiwa tersebut menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan kendaraan yang berada di sekitar lokasi. Sedikitnya 20 ruko dilaporkan terdampak akibat kuatnya ledakan.

Kerusakan terlihat pada bagian kaca hingga dinding bangunan yang mengalami retak. Sejumlah kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi juga ikut terdampak karena terkena material bangunan yang berhamburan.

Lima orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam kejadian tersebut. Korban terdiri atas tiga laki-laki dan dua perempuan.

Dugaan awal menyebut ledakan berkaitan dengan kebocoran gas LPG. Namun, penyebab pasti ledakan masih menjadi bagian dari proses pemeriksaan dan penyelidikan pihak berwenang.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut