Rangkaian acara semakin bermakna dengan penyerahan santunan untuk anak yatim dan peserta tunanetra. Tidak hanya panitia, masyarakat dan donatur turut ambil bagian dalam kegiatan sosial ini.
Yang paling menyentuh adalah sesi “Tunanetra Juga Bisa Berbagi”, ketika para peserta tunanetra menceritakan kisah hidup mereka. Banyak relawan yang mengaku terharu dan mendapatkan pelajaran berharga tentang kesabaran dan keikhlasan dari pengalaman itu.
Di penghujung acara, panitia mengumumkan santri terbaik, juara lomba, dan penerima ACI Award sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan dedikasi para peserta.
Usai acara utama, para relawan dan peserta menikmati makan siang bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Beberapa siswa tampak membantu peserta menyantap hidangan sambil berbincang ringan.
Acara ditutup dengan doa bersama serta kegiatan edukatif di sekitar Monkasel. Para peserta diajak naik ke dalam kapal selam dan berfoto bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir.
“Lewat kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar menjadi relawan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial,” ungkap Khadafi.
Festival Tunanetra Mengaji Jilid 5 bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga cermin nilai kemanusiaan dan solidaritas. SMK IPIEMS berharap semangat berbagi dan peduli ini bisa terus berlanjut, menginspirasi generasi muda untuk menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kehidupan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
