SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika internal organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu mulai menghangat.
Sejumlah pengurus daerah menilai munculnya berbagai manuver politik yang dikaitkan dengan relasi antara NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin, menilai terdapat upaya konsolidasi di kalangan kiai dan tokoh yang dinilai memiliki kedekatan dengan PKB. Menurutnya, langkah tersebut disebut berkaitan dengan kontestasi kepemimpinan PBNU ke depan.
“Secara politik, PKB tentu memiliki kepentingan terhadap dinamika NU. Ada pandangan di akar rumput bahwa kepemimpinan PBNU saat ini dinilai sebagian pihak menjauh dari basis politik historisnya. Karena itu, mulai muncul wacana figur alternatif menjelang Muktamar,” ujar Asep kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Asep menyebut terdapat beberapa nama yang kerap muncul dalam diskursus internal sebagai figur potensial dalam dinamika kepemimpinan NU mendatang. Namun ia menegaskan bahwa pembicaraan tersebut masih sebatas wacana di tingkat akar rumput.
Salah satu nama yang disebut adalah KH Abdul Salam Shohib (Gus Salam), pengasuh Pesantren Denanyar Jombang. Ia dinilai memiliki legitimasi kultural yang kuat di kalangan pesantren.
Selain itu, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang, juga disebut sebagai figur yang memiliki jaringan luas lintas kelompok.
Nama lain yang disebut yakni KH Imam Jazuli, pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, yang dikenal memiliki kedekatan dengan sejumlah kalangan politik Nahdliyin.
Sementara itu, KH Zulfa Mustofa yang saat ini menjabat Wakil Ketua Umum PBNU dinilai memiliki posisi strategis karena berada di dalam struktur organisasi sekaligus memiliki relasi dengan berbagai pihak.
Meski demikian, Asep menekankan bahwa semua nama tersebut masih sebatas pembicaraan informal dan belum mencerminkan keputusan resmi organisasi.
Menurut Asep, dinamika yang berkembang tidak lepas dari hubungan historis NU dan PKB sejak partai tersebut berdiri pada 1998. Ia menilai sebagian kalangan menginginkan relasi keduanya kembali harmonis sebagaimana awal pembentukan PKB.
“Secara sejarah, PKB lahir dari rahim NU. Karena itu ada pandangan bahwa relasi keduanya seharusnya saling menguatkan, meski tetap memiliki fungsi masing-masing,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
