Standar Cantik di TikTok Mulai Berubah Menjadi Tekanan

Redaksi
Ilustrasi perempuan melihat konten kecantikan di TikTok dan menghadapi standar cantik di media sosial. Foto: Gemini

Standar kecantikan juga berhubungan dengan kepentingan pasar. Saat seseorang merasa penampilannya belum cukup baik, produk kecantikan kerap ditawarkan sebagai solusi.

Perempuan bukan hanya penonton konten, tetapi juga calon konsumen yang terus ditawari cara untuk mengubah penampilan. Karena itu, rasa tidak percaya diri tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan pribadi semata. Lingkungan, termasuk konten dan promosi yang dilihat setiap hari, turut membentuknya.

Meski begitu, TikTok tidak hanya berisi satu gambaran tentang kecantikan. Platform ini juga memberi ruang bagi perempuan untuk menunjukkan wajah, warna kulit, dan bentuk tubuh yang beragam. Konten yang memperlihatkan penampilan apa adanya dapat mengingatkan bahwa setiap orang memiliki ciri dan kebutuhan yang berbeda.

Namun, ruang untuk tampil berbeda saja belum cukup. Konten yang mengangkat keragaman perlu mendapat perhatian yang sama, sementara promosi kecantikan sebaiknya tidak terus memakai satu gambaran penampilan sebagai ukuran ideal. Kreator dan merek juga perlu terbuka ketika sebuah konten merupakan iklan atau telah melalui penyuntingan.

Pengguna dapat mulai bersikap lebih kritis terhadap konten yang dilihat, siapa yang diuntungkan, pesan apa yang disampaikan, dan gambaran siapa yang tidak muncul? Kita juga dapat memilih akun yang mendorong cara pandang lebih sehat terhadap diri sendiri, mendukung kreator yang berani tampil apa adanya, serta berhenti menjadikan fisik orang lain sebagai bahan komentar meski dibungkus sebagai candaan atau perhatian.

Standar cantik di TikTok bukan dibentuk oleh satu pihak saja. Kreator, industri, platform, dan pengguna sama-sama berperan dalam menyebarkan gambaran tentang penampilan yang dianggap ideal. TikTok bukan satu-satunya penyebab, tetapi konten di dalamnya dapat ikut memperkuat standar yang sudah ada.

Perempuan berhak merawat diri sesuai pilihannya. Namun, kecantikan tidak seharusnya menjadi syarat agar seseorang dihargai. Tidak ada satu wajah, warna kulit, atau bentuk tubuh yang harus dipenuhi semua perempuan untuk dianggap berharga.

Penulis

Nadia Bilqis Salsabila (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya)

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network