Sementara itu, pendampingan psikososial diarahkan untuk membantu anak mengenali dan mengelola emosi, mengendalikan diri, serta menyelesaikan persoalan tanpa menggunakan kekerasan.
Aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak binaan menghadapi lingkungan sosial setelah menyelesaikan masa pembinaan. Kemampuan mengelola konflik dan membangun hubungan yang sehat diharapkan dapat mendukung proses adaptasi mereka.
Selain pembekalan materi, sebanyak 30 anak binaan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan keterampilan secara intensif selama empat hari. Pelatihan ini mencakup tiga bidang, yakni pangkas rambut atau barber, pertanian, dan kerajinan tangan.
Peserta dipilih berdasarkan penilaian perilaku baik serta minat dan ketertarikan terhadap bidang keterampilan yang tersedia. Pendekatan tersebut dilakukan agar pelatihan sesuai dengan potensi masing-masing anak dan dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Keterampilan praktis ini diharapkan menjadi bekal untuk mencari pekerjaan, mengembangkan usaha, maupun membangun kemandirian ekonomi. Dengan memiliki kemampuan yang dapat diterapkan secara langsung, anak binaan diharapkan mempunyai lebih banyak pilihan dalam menata masa depan.
Fajar mengatakan, keberlanjutan pembelajaran menjadi hal yang perlu diperhatikan agar manfaat pelatihan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.
“Harapan kami, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti ketika kegiatan ini selesai. Anak-anak dapat terus belajar, mengasah kemampuan, dan memiliki pilihan yang lebih luas untuk hidup mandiri,” imbuhnya.
Kepala LPKA Kelas I Blitar, Jaka Prihatin, menyambut baik keterlibatan dunia usaha dalam mendukung proses pembinaan anak. Menurutnya, pembentukan karakter perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak yang menjalani pembinaan tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, pendekatan pembinaan perlu mencakup aspek mental, sosial, serta keterampilan praktis.
“Anak-anak di LPKA tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan mengembangkan diri. Dukungan ini sangat berarti untuk menumbuhkan motivasi mereka agar berubah dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Jaka.
Sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pembinaan, Pelindo Terminal Petikemas juga menyerahkan bantuan peralatan praktik kepada LPKA Kelas I Blitar. Peralatan tersebut dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pelatihan dan pengembangan kemandirian setelah program Pelita Warna berakhir.
Melalui pembinaan yang menggabungkan pendidikan hukum, penguatan psikososial, dan keterampilan kerja, anak binaan diharapkan memiliki bekal yang lebih memadai untuk beradaptasi, membangun kehidupan mandiri, dan kembali berperan positif di masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
