Pesan Tegas Gus Kikin di Muskercab PCNU Surabaya, Jadi Peringatan Keras untuk Pengurus?
Pesan Tegas Gus Kikin: Jangan ‘Turun Derajat’
Arahan mendalam juga datang dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Machfud atau Gus Kikin. Dalam suasana yang khidmat, ia mengajak seluruh pengurus melakukan muhasabah bersama.
Menurutnya, tantangan terbesar organisasi bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam—ketika orientasi pengabdian bergeser menjadi kepentingan pragmatis.
“Kita harus menjaga agar NU tidak ‘turun derajat’ karena lebih dekat pada kepentingan duniawi daripada kepada Yang Maha Kuasa,” pesannya.
Gus Kikin kembali menggaungkan prinsip klasik yang kerap menjadi pengingat keras bagi kader NU: “Hidupkanlah NU, dan jangan mencari hidup di NU.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang keikhlasan dan integritas.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan internal di tengah dinamika politik yang kerap memecah belah. Persaudaraan dan ukhuwah, menurutnya, adalah fondasi yang tidak boleh ditawar.
Selain penguatan ideologis dan organisasi, Muskercab II juga menegaskan arah baru dalam pemberdayaan ekonomi umat. Sebagai kota metropolitan dan pusat ekonomi Jawa Timur, Surabaya memiliki potensi besar yang perlu dikelola secara profesional.
Masduki Toha menyatakan, penguatan ekonomi warga Nahdliyin menjadi prioritas utama dalam kepengurusannya. Kemandirian finansial dinilai sebagai kunci agar NU mampu menjalankan dakwah dan program sosial tanpa ketergantungan pada pihak luar.
“Ekonomi umat adalah pilar kemandirian kita. Jika sektor ini kuat, dakwah dan khidmat bisa berjalan secara berdaulat,” ujarnya disambut antusias peserta.
Langkah ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat urban yang menghadapi tantangan ekonomi, persaingan kerja, hingga digitalisasi usaha.
Selama dua hari, forum Muskercab diisi sidang komisi yang membahas beragam isu strategis. Mulai dari inovasi dakwah digital, penguatan layanan kesehatan, hingga strategi menyapa generasi muda Surabaya.
Namun satu hal yang disepakati bersama: modernisasi tidak boleh mengikis prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang menjadi ruh perjuangan NU.
Semangat adaptif dan nilai tradisi berjalan beriringan. Itulah wajah NU Surabaya hari ini—membumi, tetapi tetap relevan.
Muskercab II PCNU Surabaya ditutup dengan komitmen bulat untuk menjalankan langkah yang selaras demi kemaslahatan umat berkelanjutan. Hasil musyawarah ini akan menjadi panduan kerja konkret bagi seluruh jajaran pengurus.
Dari sejuknya Trawas, para pengurus membawa pulang lebih dari sekadar keputusan organisasi. Mereka membawa semangat baru—tentang keikhlasan, persatuan, dan kemandirian ekonomi—untuk diwujudkan di tengah denyut kehidupan warga Kota Pahlawan.
Bagi warga Nahdliyin Surabaya, Muskercab ini bukan hanya agenda struktural. Ia adalah pengingat bahwa khidmat harus terus hidup, menyatu dengan kebutuhan umat, dan tetap tegak menjaga marwah organisasi.
Editor : Arif Ardliyanto