Tangis Haru Bu Aminah Pecah, Penjual Kuliner Legendaris Semanggi Gendong Punya Stan di Jantung Kota
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menyebut semanggi sebagai salah satu kuliner khas yang keberadaannya semakin langka. Tanaman semanggi sendiri saat ini hanya banyak ditemukan di wilayah tertentu seperti Pakal dan Kendung.
"Semanggi ini makanan khas Suroboyo yang harus dijaga dan dilestarikan. Kehadiran Rumah Makan Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan sangat tepat karena menjadi etalase kuliner khas Surabaya di tengah kota," ujar Armuji yang akrab disapa Cak Ji.
Menurutnya, Aminah berhasil membuktikan bahwa inovasi mampu memperpanjang usia produk tradisional. Jika sebelumnya semanggi hanya dapat dijual dalam kondisi segar dan harus habis pada hari yang sama, kini produk tersebut telah dikembangkan menjadi semanggi instan kering yang tahan hingga berbulan-bulan.
"Dulu semanggi harus habis dijual hari itu juga. Sekarang sudah bisa dikemas menjadi produk kering yang tahan berbulan-bulan dan bisa dikirim ke berbagai daerah. Ini bentuk inovasi UMKM yang harus kita dukung," katanya.
Armuji menambahkan, MPP di bawah pembinaan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital, Prananda Prabowo, terus mendorong produk unggulan daerah agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri menilai semanggi merupakan bagian penting dari identitas warga Surabaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda.
"Semanggi ini ciri khas warga Surabaya. Tidak ada di daerah lain. Ini harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda," ujarnya.
Menurutnya, keberlangsungan UMKM menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Ketika UMKM tumbuh dan berkembang, maka ekonomi kerakyatan akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan.
Di balik berdirinya stan Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perempuan yang memulai usaha dari bawah.
Aminah mengaku tak pernah membayangkan dirinya bisa memiliki tempat usaha di salah satu kawasan paling bergengsi di Surabaya. Selama bertahun-tahun, ia menjajakan semanggi secara tradisional sebelum akhirnya berkembang seperti sekarang.
"Saya benar-benar seperti mimpi. Dulu hanya jual semanggi gendong, sekarang punya stan di Jalan Tunjungan. Saya sampai terharu kalau cerita ini," ungkapnya.
Perjalanan usahanya dimulai sejak 2007. Titik balik terjadi ketika dirinya bergabung dalam program Pahlawan Ekonomi yang digagas Pemerintah Kota Surabaya saat dipimpin Tri Rismaharini.
"Saya berkembang karena program Pahlawan Ekonomi. Dari situ saya belajar mengembangkan usaha dan memperluas pemasaran," katanya.
Kini Selendang Semanggi tidak hanya menjual semanggi segar, tetapi juga menghadirkan semanggi instan kering tanpa bahan pengawet yang mampu bertahan hingga dua bulan. Produk tersebut disiapkan sebagai oleh-oleh khas Surabaya yang dapat dibawa wisatawan maupun dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran Selendang Semanggi di kawasan Tunjungan Romansa juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah seorang pengunjung, Rudi, menilai lokasi tersebut sangat strategis untuk memperkenalkan kuliner khas Surabaya kepada wisatawan.
"Menurut saya sangat bagus karena berada di lokasi yang strategis. Ini makanan khas Suroboyoan dan memang cocok ditempatkan di Jalan Tunjungan," ujarnya.
Ia juga mengaku puas dengan cita rasa menu yang disajikan, termasuk lontong kikil yang menjadi salah satu menu favorit di lokasi tersebut.
"Rasanya enak dan harganya juga sesuai. Jadi sangat layak untuk dicoba," katanya.
Keberadaan Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan menjadi simbol bahwa kuliner tradisional tidak hanya mampu bertahan di tengah modernisasi, tetapi juga dapat berkembang menjadi ikon wisata dan kebanggaan baru Kota Surabaya. Dari penjual gendong hingga memiliki stan permanen di pusat kota, perjalanan Bu Aminah menjadi bukti bahwa UMKM lokal bisa naik kelas tanpa kehilangan akar budayanya.
Editor : Arif Ardliyanto