Parkir di Surabaya Makin Praktis, Tak Perlu Ribet Pakai Uang Cash, Bayar Beralih ke Sistem Digital
Data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya per 9 Juni 2026 mencatat, jumlah petugas parkir yang telah menerapkan sistem digital mencapai 926 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang berjumlah 819 petugas parkir.
Perluasan layanan parkir digital juga telah menjangkau sejumlah ruas jalan baru, antara lain kawasan Stasiun Kota, Perak Timur, Perak Barat, dan Tambak Bening.
Sebelumnya, sistem serupa telah diterapkan di berbagai titik Surabaya Pusat, Barat, Timur, dan Utara, seperti Bratang Binangun, Bratang Gede, Ngagel Tengah, Nginden, Nginden Semolo, Prapen, Tenggilis Barat, Klampis, Jagir Wonokromo, Manyar Kertoarjo, Manyar Tegal, Rungkut, Bukit Darmo Boulevard, Kupang Gunung, Darmokali, hingga Karang Menjangan.
Untuk memudahkan masyarakat, pembayaran parkir digital kini dapat dilakukan melalui berbagai metode. Warga dapat menggunakan QRIS maupun kartu uang elektronik atau e-toll yang dapat diproses melalui telepon pintar, mesin Electronic Data Capture (EDC) milik petugas parkir, hingga QRIS yang terpasang pada rompi resmi petugas.
Di lapangan, setiap juru parkir resmi kini dilengkapi rompi khusus dengan kode QRIS pada bagian dada kanan dan kiri. Inovasi tersebut memberikan alternatif pembayaran yang lebih praktis bagi masyarakat, sekaligus mengatasi kendala apabila perangkat telepon seluler petugas mengalami gangguan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishub Surabaya Trio Wahyu Bowo menyampaikan, penerapan parkir digital mulai menunjukkan dampak positif terhadap penerimaan daerah. Berdasarkan evaluasi Dishub, pendapatan dari sektor retribusi parkir mengalami kenaikan sekitar 10 persen sejak sistem digital diterapkan.
"Peningkatan pemasukan parkir setelah digitalisasi sekitar 10 persen. Kenaikan ini ada karena sistem digital membuat pencatatan lebih transparan," ujar Trio Wahyu Bowo.
Menurut Trio, peningkatan tersebut cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski program telah dimulai sejak Januari 2026, implementasi efektif baru berjalan pada Maret hingga April setelah distribusi perangkat telepon pintar kepada para juru parkir selesai dilakukan. "Kami akan terus melakukan evaluasi terkait peningkatan pendapatan retribusi ini," katanya.
Trio juga menjelaskan, realisasi pendapatan parkir pada 2025 mencapai Rp25 miliar. Dengan perluasan penerapan parkir digital serta dukungan masyarakat menggunakan metode pembayaran non-tunai, pihaknya optimistis pendapatan sektor parkir dapat meningkat hingga 40 sampai 50 persen pada tahun-tahun mendatang.
"Harapan kami tentunya dengan optimalisasi parkir digital PAD bisa terus tumbuh hingga 50 persen dari tahun sebelumnya," harapnya.
Untuk memperkuat pengawasan, Dishub Surabaya juga menghadirkan sejumlah inovasi baru. Selain memasang papan informasi yang memuat identitas dan foto resmi juru parkir di setiap titik layanan, lebih dari 900 jukir resmi kini telah menggunakan rompi khusus yang dilengkapi QRIS pembayaran.
"Kami juga melengkapi lebih dari 900 jukir resmi dengan rompi khusus yang memiliki kode QRIS di bagian saku dada. Sisi kanan rompi digunakan untuk pembayaran kendaraan roda dua dan sisi kiri untuk kendaraan roda empat," terangnya.
Melalui sistem tersebut, masyarakat yang membayar menggunakan layanan perbankan digital cukup memindai kode QRIS yang terdapat pada rompi petugas, kemudian menunjukkan bukti transaksi setelah pembayaran berhasil dilakukan. "Jadi tidak ada alasan lagi handphone jukir mati atau tidak ada kuota," jelas Trio.
Selain QRIS dan kartu uang elektronik, Dishub Surabaya juga menyediakan opsi pembayaran melalui voucher parkir. Saat ini, Pemkot Surabaya tengah menjajaki kerja sama dengan jaringan toko ritel modern maupun pelaku UMKM untuk memperluas akses pembelian voucher parkir bagi masyarakat.
Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga mengajak warga untuk berperan aktif menyukseskan program digitalisasi parkir. Masyarakat diimbau membiasakan pembayaran non-tunai serta lebih cermat memeriksa identitas petugas parkir yang bertugas di lapangan.
Apabila ditemukan petugas yang identitasnya tidak sesuai dengan foto yang tertera pada papan informasi resmi, warga diminta untuk tidak melakukan pembayaran dan segera melaporkannya kepada pihak terkait.
"Kami meminta warga Surabaya manakala melihat petugas parkir wajahnya tidak sesuai dengan foto yang ada di papan rambu, mohon untuk tidak dibayar. Jangan lakukan pembayaran," tegasnya.
Menurut Trio, penggunaan sistem non-tunai akan membantu menghilangkan stigma negatif terkait pengelolaan dana parkir karena seluruh transaksi tercatat secara digital dan dapat dipantau. Pendapatan yang diperoleh nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program pembangunan Kota Pahlawan.
Selain itu, data transaksi yang terekam dalam sistem juga dapat dimanfaatkan untuk memetakan kondisi sosial ekonomi juru parkir. Dengan demikian, Pemkot Surabaya dapat memberikan intervensi kesejahteraan yang lebih tepat sasaran.
"Data performa pendapatan harian jukir yang terekam di sistem digital juga digunakan untuk pendapatan sosial jukir, apakah masuk dalam kategori desil 1 sampai 5. Apabila sudah terdata, kami akan memberikan intervensi atau perlakuan kesejahteraan khusus di akhir bulan," pungkasnya.(adv)
Editor: Arif Ardliyanto