Harga Minyak Turun Usai Konflik Iran-AS Mereda, Bagaimana Nasib Pertamax?
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai menjadi perhatian masyarakat seiring tren penurunan harga minyak dunia setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pada Kamis (18/6/2026), berdasarkan data perdagangan hingga pukul 08.11 GMT, kontrak berjangka minyak Brent melemah USD1,59 atau sekitar 2% menjadi USD77,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun USD1,83 atau 2,38% ke level USD74,96 per barel. Penurunan ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Namun, sejumlah ekonom menilai harga BBM nonsubsidi di Indonesia tidak dapat serta-merta turun mengikuti pergerakan harga minyak mentah global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan harga BBM yang dibayar masyarakat di SPBU tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia. Terdapat sejumlah komponen lain yang turut memengaruhi pembentukan harga.
Menurutnya, harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung. Pasalnya, harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata.
“Tapi juga merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak," kata Josua, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, seluruh komponen tersebut dihitung berdasarkan rata-rata harga dalam periode tertentu, bukan harga harian. Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, penetapan harga juga mempertimbangkan kebijakan pemerintah, daya beli masyarakat, serta kemampuan anggaran negara.
"Ketika harga minyak dunia turun, ruang fiskal yang terbuka bisa lebih dahulu digunakan untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi yang sebelumnya membengkak, bukan langsung diteruskan menjadi penurunan harga di SPBU," ujarnya.
Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian harga memang lebih mengikuti mekanisme pasar. Meski demikian, perubahan harga tetap mengacu pada formula resmi dan pengawasan pemerintah sehingga tidak dilakukan setiap hari.
"Persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi," tambahnya.
Josua memperkirakan harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter atau sekitar Rp250 lebih tinggi dibandingkan harga jual yang berlaku saat ini sebesar Rp16.250 per liter.
Menurutnya, tingginya harga keekonomian tersebut dipengaruhi lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat melampaui asumsi APBN sebesar USD70 per barel, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor energi.
Ia menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang diperlukan untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.
"Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina," kata Josua.
Senada dengan itu, Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, mengatakan meredanya konflik Iran dan AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global karena berpotensi menekan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, tren penurunan harga minyak tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax. Namun, penurunan harga hingga kembali ke level sekitar Rp12.300 per liter dinilai tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
"Pasti terjadi penurunan harga dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu," ujar Yayan.
Ia memperkirakan harga minyak dunia akan turun secara bertahap dengan koreksi sekitar 1 hingga 3 persen per hari dalam beberapa bulan ke depan. Namun, arah pergerakan harga energi global masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan keberhasilan implementasi perdamaian antara kedua negara.
Yayan juga menyoroti harga minyak Brent yang saat ini menunjukkan tren pelemahan. Menurutnya, harga Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026 sebelum kembali meningkat pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di negara-negara belahan bumi utara.
"Kita lihat harga Brent semakin turun dan kemungkinan akan terus melemah hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada Agustus hingga September ketika musim panas berakhir," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto