Tren Otomotif RI Kini Mulai Bergeser ke Kendaraan PHEV
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Peralihan menuju kendaraan ramah lingkungan di Indonesia tampaknya mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya mobil listrik murni menjadi pilihan utama, kini kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai mendapat tempat di hati konsumen.
Pilihan kendaraan hybrid dianggap mampu menjawab kebutuhan mobilitas sekaligus mengurangi kekhawatiran soal jarak tempuh dan ketersediaan stasiun pengisian daya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan PHEV mengalami lonjakan signifikan. Pada April 2026, distribusi wholesales kendaraan jenis ini mencapai 569 unit atau meningkat 60,3 persen dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 355 unit.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026, penjualan PHEV mencapai 2.089 unit. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 91 unit.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat mulai mencari alternatif kendaraan yang lebih hemat energi, namun tetap memberikan fleksibilitas layaknya mobil konvensional.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan, Indonesia masih didominasi kendaraan berbahan bakar konvensional.
Sehingga diperlukan solusi yang dapat menjadi jembatan menuju elektrifikasi penuh. Ia mengungkapkan, masih ada sekitar 65 persen kendaraan konvensional yang digunakan masyarakat.
Menurutnya, perjalanan menuju elektrifikasi penuh tidak bisa dipaksakan karena tidak semua siap menggunakan kendaraan listrik murni. Baik karena kesiapan infrastruktur maupun kebutuhan mobilitas.
“Karena itu kami menghadirkan teknologi Dual Mode agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan," ujarnya disela acara BYD Tech-Culture Fest 2026 di Fashion Atrium Pakuwon Mall Surabaya, Jumat (3/7/2026).
Luther menjelaskan, teknologi Dual Mode tetap mengandalkan motor listrik sebagai penggerak utama, sementara mesin bensin hanya bekerja ketika dibutuhkan. Sistem tersebut memungkinkan pengguna tetap merasakan pengalaman berkendara seperti mobil listrik dengan fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.
Selain efisien dalam penggunaan energi, teknologi itu juga menawarkan biaya kepemilikan yang lebih rendah. Berdasarkan simulasi internal selama tiga tahun, BYD M6 Dual Mode mampu menekan biaya perawatan sekitar 30 persen dibandingkan kendaraan konvensional di segmen yang sama.
"Potensi penghematan ini didukung sistem Dual Mode yang mengoptimalkan penggunaan tenaga listrik dan mesin sesuai kebutuhan berkendara sehingga memberikan nilai kepemilikan yang lebih optimal dalam jangka panjang," katanya.
Untuk memperkuat layanan kepada konsumen, BYD menargetkan memiliki lebih dari 100 jaringan dealer di Indonesia hingga akhir 2026. Sekitar 95 persen di antaranya akan berkonsep 3S (sales, service, dan spare parts).
"Pada akhir tahun ini kami menargetkan lebih dari 100 jaringan dan lebih dari 95 persen merupakan jaringan 3S. Fokus kami sekarang sudah berkomitmen ke kota-kota tier dua, bukan hanya ibu kota provinsi," ujarnya.
Menurut dia, setelah memperkuat jaringan di sejumlah kota besar, BYD mulai memperluas ekspansi ke kota-kota tier dua, termasuk di Jawa Timur, agar masyarakat semakin mudah mengakses produk maupun layanan purnajual.
"Jaringan penjualan harus diikuti perkembangan aftersales dan spare parts yang mumpuni. Kalau tidak, keduanya tidak akan saling mendukung dalam pengembangannya," katanya.
Regional Manager After Sales BYD Indonesia Andre Obrien menambahkan seluruh suku cadang kendaraan BYD saat ini masih didatangkan dari China. Hal ini untuk memastikan kualitas produk dan kecepatan pasokan kepada konsumen.
“Meski begitu, kami membuka peluang melakukan lokalisasi produksi suku cadang pada masa mendatang. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap kajian,” terangnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur MHD Aftabuddin Rijaluzzaman mengatakan Surabaya tidak hanya menjadi pusat bisnis, tetapi juga terus berkembang sebagai ekosistem inovasi menuju kota cerdas dan berkelanjutan.
Menurut dia, kegiatan seperti BYD Tech-Culture Fest menjadi instrumen penting untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai kendaraan listrik melalui pameran teknologi, aktivitas interaktif, hingga sesi test drive.
"Ini adalah jembatan teknologi yang sempurna untuk mengakselerasi transisi energi tanpa mengorbankan fungsi mobilitas masyarakat," kata Aftabuddin.
Selain menghadirkan edukasi teknologi kendaraan listrik, BYD Tech-Culture Fest 2026 juga memperkenalkan teknologi Dual Mode (DM), e-Platform 3.0, dan Blade Battery melalui Tech Xperience Booth. Festival tersebut juga dimeriahkan talkshow bersama pengamat otomotif Willy Sandi, kompetisi seni anak, dan penampilan grup musik MALIQ & D'Essentials.
Editor : Arif Ardliyanto