Hanya Modal Robot Rp7 Juta, Empat Siswa Surabaya Ini Sukses Taklukkan Kompetisi Robotik Dunia
Ia menegaskan sekolah tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa berkembang secara optimal.
"Semua kami fasilitasi sehingga anak-anak bisa bertanding dengan maksimal dan percaya diri. Alhamdulillah hasilnya mereka mampu menjadi juara," katanya.
Sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian tersebut, para siswa akan mengikuti program pre-university class di Khon Kaen University, Thailand, pada 2027. Program itu bertujuan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kompetisi robotik internasional berikutnya di Riyadh, Arab Saudi.
Prof. Sujarwanto mengungkapkan, kemenangan tahun ini menjadi pencapaian yang sangat istimewa karena merupakan prestasi tiga tahun berturut-turut sejak 2024.
"Anak-anak ini masih duduk di kelas XI dan XII. Tahun depan kami akan kembali mengikuti kompetisi di Arab Saudi. Harapannya pada 2027 nanti mereka kembali mampu mengharumkan nama Indonesia," tuturnya.
Dukungan juga disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan Unesa, Hj. Endah Purnomowati Nurhasan, M.Pd. Menurutnya, prestasi internasional lahir dari proses pembinaan yang konsisten, bukan sekadar persiapan menjelang perlombaan.
"Kami ingin anak-anak mendapatkan dukungan terbaik agar dapat terus berkembang. Semoga melalui pendampingan para mentor, mereka kembali meraih hasil terbaik pada kompetisi tahun depan," ujarnya.
Dalam proses pengembangan robot, tim mendapat pendampingan teknis dari mahasiswa Fakultas Teknik Unesa angkatan 2024, Zikry Azizy Aljava. Pendampingan tersebut berperan penting dalam penyempurnaan aspek mekanik maupun pemrograman sehingga performa robot meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, Ketua Tim Robotik, Evan Beck Nararya, mengungkapkan perjuangan menuju podium juara dipenuhi latihan intensif hingga menjelang keberangkatan ke Singapura.
"Kami terus latihan tanpa henti, bahkan sampai H-1 minggu keberangkatan. Kami sempat sangat gugup karena harus menghadapi tim-tim kuat dari Malaysia dan Singapura yang memiliki spesifikasi robot serta strategi permainan berbeda. Alhamdulillah kami bisa menjadi juara," ungkap Evan.
Menurut Evan, keberhasilan dalam kompetisi robotik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga fokus saat bertanding.
"Kuncinya adalah tetap tenang, sabar, dan cermat membaca situasi ketika bertanding," katanya.
Ia mengakui tim asal Malaysia menjadi lawan paling berat karena memiliki persiapan yang sangat matang. Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga untuk mengembangkan teknologi robot yang lebih inovatif pada kompetisi berikutnya.
Prestasi empat siswa SMA Labschool Unesa ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di panggung dunia. Dengan perpaduan kreativitas, disiplin, inovasi, dan pendampingan yang tepat, karya anak bangsa terus menunjukkan kualitasnya di kancah internasional sekaligus membawa harum nama Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto