Puluhan Kades Kalimantan Selatan Belajar Kelola Sampah ke Sidoarjo, Ini Inovasi yang Dipelajari
Kampung Edukasi Sampah di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, bukan sekadar mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Kawasan ini mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu dengan melibatkan partisipasi aktif warga melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
Untuk mengurangi sampah organik, warga menerapkan sejumlah metode pengolahan, mulai dari komposter aerob, Takakura, hingga tong aerob. Pengolahan juga dilakukan dengan memanfaatkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta mesin pencacah sampah organik.
Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui Bank Sampah Telulikur. Fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat pemilahan sampah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual.
Pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut semakin berkembang dengan kehadiran fasilitas hidroponik, sumur resapan, IPAL komunal, serta panel surya sebagai sumber energi terbarukan.
Keterpaduan berbagai fasilitas itu memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak harus ditangani secara terpisah. Pengelolaan sampah, air, energi, dan penghijauan dapat berjalan beriringan dengan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama.
Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menilai pengelolaan lingkungan di tingkat desa perlu menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, pemahaman mengenai SDGs tidak cukup hanya berada di tingkat pemerintah pusat maupun kabupaten/kota. Pemerintah desa juga perlu memahami tujuan, indikator, serta penerapannya dalam program pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
"SDGs jangan hanya menjadi pemahaman atau dokumen perencanaan di tingkat pusat dan daerah. Pemerintah desa juga harus memahami apa itu SDGs, apa tujuan dan indikatornya, serta bagaimana menerjemahkannya ke dalam program dan kegiatan nyata di desa," ujar Edi.
Dia menjelaskan, persoalan sampah dan lingkungan memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan. Di antaranya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Karena itu, pembangunan desa semestinya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur. Aspek keberlanjutan lingkungan, kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kualitas hidup warga juga harus menjadi perhatian.
"Desa memiliki peran strategis dalam pencapaian SDGs. Program pengelolaan sampah, bank sampah, penghijauan, pengolahan air limbah, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat sebenarnya merupakan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," tambahnya.
Edi juga mengingatkan bahwa keberhasilan membangun lingkungan yang berkelanjutan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya fasilitas yang tersedia.
Kesadaran warga, kepemimpinan di tingkat lokal, serta konsistensi masyarakat dalam menjalankan program justru menjadi faktor penting agar inovasi lingkungan dapat bertahan dalam jangka panjang.
"Jangan menunggu anggaran besar atau fasilitas lengkap untuk mulai bergerak. Mulailah dari rumah tangga, libatkan masyarakat, bangun gotong royong, dan lakukan secara konsisten. Setiap desa memiliki potensi untuk mengembangkan inovasi lingkungan sesuai karakteristik dan sumber daya yang dimiliki," tegasnya.
Edi berharap kegiatan studi tiru yang dilakukan pemerintah desa maupun komunitas tidak berhenti sebatas melihat fasilitas dan mengambil dokumentasi. Lebih dari itu, kunjungan harus menghasilkan gagasan, rencana tindak lanjut, hingga program nyata ketika peserta kembali ke daerah masing-masing.
Selama ini, Kampung Edukasi Sampah menerima sekitar 3.000 hingga 4.000 pengunjung setiap tahun. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, peneliti, hingga delegasi luar negeri.
Berbagai pengalaman yang dibagikan mencakup pengelolaan bank sampah, pengolahan sampah organik, budidaya maggot, pemanfaatan teknologi tepat guna, pengolahan air limbah, hingga strategi membangun keterlibatan masyarakat.
Kampung Edukasi Sampah juga membuka kesempatan bagi kepala desa, perangkat desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), asosiasi pemerintah desa, komunitas, serta perguruan tinggi dari berbagai daerah untuk melakukan kunjungan edukatif dan studi tiru.
Melalui pertukaran pengetahuan dan praktik baik tersebut, diharapkan semakin banyak desa mampu mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan secara mandiri. Dengan keterlibatan masyarakat dan pemanfaatan potensi lokal, upaya menjaga lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Arif Ardliyanto