Rekrut Warga Asli, Intelijen Rusia Mulai Intai Informasi Indonesia
Abromov juga berhasil merekrut Yamin, seorang karyawan sipil berumur 31 tahun yang bekerja di Markas Besar Angkatan Laut Indonesia. Yamin yang mendapat upah cukup besar tiap bulan, melibatkan istrinya.
Dari Abromov terungkap juga sejumlah sandi yang menjadi kebiasaan mata-mata Soviet. Bagaimana mereka suka memakai kode lampu dim mobil untuk mengirim pesan agen lain yang menanti di trotoar.
Kemudian suka memakai sandi meletakkan secarik kertas putih di atas dashboard, gulungan koran di tangan kanan atau koran yang dijepit pada ketiak.
Sayangnya, pada pertengahan Juni 1972, kerja-kerja senyap Petrov untuk Satsus Intel dan CIA terbongkar agen Soviet. Terungkapnya penyamaran Petrov sebagai agen ganda akibat kecerobohannya sendiri.
Petrov yang diburu agen Soviet karena dianggap sebagai penghianat, seketika menghilang. Dengan pesawat Angkatan Laut AS, Bakin dan CIA berhasil menerbangkan Petrov ke Philipina, dan lalu memindahkan ke Washington DC.
CIA memberi suaka Petrov di Virginia. Dua tahun berikutnya ia kembali melakukan kerja intelijen, sebelum akhirnya tidak terdengar nasibnya lagi setelah mencoba menemui anak dan istrinya di Soviet.
“Dengan nama sandi Houdini, ia (Petrov) terbukti menjadi salah satu agen pembelot GRU yang paling produktif pada waktu itu,” tulis Ken Conboy.
Editor : Arif Ardliyanto