Rekrut Warga Asli, Intelijen Rusia Mulai Intai Informasi Indonesia
Dari laporan Houdini diketahui agen Soviet sengaja tidak memperlihatkan reaksi yang menyolok dari peristiwa pembelotan agennya. Agen Soviet tetap melakukan perekrutan anggota baru di Indonesia. Bahkan lebih agresif.
Lembaga legislatif, yakni tepatnya tenaga ahli di tubuh MPR, disasarnya. Juga para pegawai Kantor Pos. Menurut Ken Conboy, dari semua institusi yang menjadi sasaran rekrutmen, tidak ada yang lebih menarik dari agen Soviet selain angkatan bersenjata (militer).

Soeharto mencurigai Sarwo Edhie karena menemui Soekarno setelah peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal TNI
Sejumlah kegiatan rekrutmen intelijen Soviet terbongkar. Pada tahun 1971, KGB berusaha merekrut ajudan Jenderal Nasution. Kemudian pada tahun 1972, agen GRU mencoba mendekati seorang letnan angkata darat.
Pada tahun 1974, operator Satsus Intel sempat mengecek seorang perwira sandi Indonesia yang dicurigai melakukan kegiatan mata-mata. Selama bulan Juli 1975 Satsus Intel berhasil mendokumentasi beberapa kali kontak antara pejabat KGB dengan seorang letnan angkatan darat yang bertugas di intelijen militer.
Satsus Intel rezim Soeharto menangani kegiatan agen mata-mata Soviet dengan treatmen yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya dengan melakukan aksi kontraintelijen.
Yang cukup terkenal adalah operasi dengan sandi Jaring pada tahun 1974. Kemudian operasi bersandi Belati Ganda tahun 1975 dan yang paling menghebohkan Operasi bersandi Ubur-ubur.
Editor : Arif Ardliyanto