Pasokan Energi Global Terganggu Konflik Timur Tengah, Distribusi LPG di Jatim Diperketat
Dari STS Kalbut, suplai LPG disalurkan ke berbagai terminal strategis seperti Surabaya, Tanjungwangi, Manggis, Ampenan, hingga Bima. Volume distribusi pun tidak kecil, dengan kapasitas kapal berkisar antara 1.700 hingga 10.000 metrik ton.
Keberadaan fasilitas ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan pasokan, terutama saat kebutuhan LPG terus meningkat, termasuk di Jawa Timur yang menjadi salah satu wilayah dengan konsumsi tinggi.
Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga distribusi tetap lancar dan mencukupi kebutuhan masyarakat, meski kondisi global tengah bergejolak.
Sebagai bagian dari penguatan stok, pada 8 April lalu kapal kargo bermuatan 44.839 metrik ton LPG telah bersandar di STS Kalbut. Muatan ini segera didistribusikan ke sejumlah wilayah dengan jadwal yang telah ditentukan.
Gresik dijadwalkan menerima pasokan pada 12 April sebesar 10.000 metrik ton, ditambah suplai dari kilang TPPI sebanyak 1.000 metrik ton yang tiba lebih awal.
Surabaya telah menerima 8.000 metrik ton sejak 10 April dan kini dalam proses pembongkaran.
Banyuwangi akan mendapatkan 2.500 metrik ton dengan estimasi tiba pada 11 April.
Distribusi bertahap ini menjadi bukti bahwa sistem logistik energi nasional tetap berjalan, bahkan di tengah tekanan global.
Energi untuk Masyarakat, Tetap Terjaga
Bagi masyarakat, ketersediaan LPG bukan sekadar angka statistik, tetapi kebutuhan sehari-hari—mulai dari memasak hingga usaha kecil.
Melalui penguatan distribusi dan optimalisasi fasilitas seperti STS Kalbut, Pertamina berupaya memastikan dapur-dapur rumah tangga tetap menyala, tanpa terganggu gejolak dunia.
Di tengah ketidakpastian global, satu hal yang ingin dijaga tetap pasti: energi untuk masyarakat Indonesia harus selalu tersedia.
Editor : Arif Ardliyanto