Sosok Prof Halim, Ulama Akademisi yang Kini Nahkodai MUI Jatim, Ternyata Putra Tokoh Besar Bondowoso
Kepercayaan terhadap kapasitasnya juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia ditunjuk sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD), yang mengelola berbagai program beasiswa bagi santri dan mahasiswa.
Program tersebut membuka akses pendidikan hingga ke luar negeri, termasuk ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Peran ini memperlihatkan komitmennya dalam memperluas kesempatan generasi muda untuk menimba ilmu di level global.
Perjalanan panjang itu diiringi berbagai penghargaan. Ia pernah dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi oleh Kementerian Agama RI pada 2007, serta Tokoh Pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada 2012.
Di bidang penelitian, kiprahnya juga diakui secara nasional. Sejumlah penghargaan riset diraih dari lembaga bergengsi, termasuk kerja sama dengan The Ford Foundation dan Kementerian Riset dan Teknologi. Karya-karyanya banyak berfokus pada pendidikan Islam dan pengembangan keilmuan keagamaan.
Namun, salah satu bab paling penting dalam hidupnya adalah pengabdian di MUI. Sejak 1991, sepulang dari Yogyakarta, ia mulai dari posisi staf sekretariat MUI Jember. Perjalanan organisasinya terus menanjak—dari Sekretaris Umum, Ketua I, hingga Ketua Umum MUI Jember selama tiga periode.
Di tingkat provinsi, ia juga memegang peran strategis, mulai dari bidang kajian dan penelitian hingga wakil ketua umum. Kini, setelah lebih dari 35 tahun berkhidmat, ia dipercaya menjadi Ketua Umum MUI Jawa Timur, menggantikan KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah.
Bagi Prof. Halim, jabatan bukanlah tujuan akhir. Ia dikenal sebagai sosok yang berusaha menyatukan tiga hal: ilmu, dakwah, dan pengabdian sosial. Aktivitasnya tak hanya berada di ruang kelas atau forum ilmiah, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Kepemimpinannya di MUI Jawa Timur diharapkan mampu menjaga harmoni, memperkuat peran ulama, serta mendorong pengembangan keilmuan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, kehadiran figur seperti Prof. Halim menjadi harapan tersendiri—bahwa nilai keilmuan dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang berimbang antara agama dan kebangsaan.
Editor: Arif Ardliyanto