Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tak Sekadar Kelola Dana Umat, MUI Jatim Siapkan Gebrakan Baru untuk UMKM dan Ekonomi Pesantren
Advertisement . Scroll to see content

Sosok Prof Halim, Ulama Akademisi yang Kini Nahkodai MUI Jatim, Ternyata Putra Tokoh Besar Bondowoso

Minggu, 26 April 2026 | 05:31 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Sosok Prof Halim, Ulama Akademisi yang Kini Nahkodai MUI Jatim, Ternyata Putra Tokoh Besar Bondowoso
Profil lengkap Prof KH Abd Halim Soebahar, Ketua Umum MUI Jawa Timur 2025–2030. Dari akademisi hingga pengabdian 35 tahun untuk umat. Foto tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pergantian kepemimpinan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghadirkan sosok yang bukan nama baru dalam dunia keilmuan dan keumatan. Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A. kini dipercaya menakhodai MUI Jatim periode 2025–2030, melanjutkan estafet kepemimpinan dengan bekal pengalaman panjang dan dedikasi yang tak singkat.

Dikutip dari online MUI Jatim, Prof. Halim bukan sekadar akademisi. Ia adalah figur yang tumbuh dari tradisi pesantren, mengakar kuat dalam dunia pendidikan Islam, sekaligus konsisten hadir di tengah masyarakat. Lahir pada 4 Januari 1961, ia berasal dari keluarga yang lekat dengan nilai keagamaan. Ayahnya, KH. Bahrul Ulum, dikenal sebagai tokoh asal Bondowoso yang menanamkan fondasi keilmuan sejak dini.

Kini, di kediamannya di Kaliwates, Jember, perjalanan panjang itu terasa seperti rangkaian cerita tentang pengabdian. Bersama istrinya, Dr. Hj. Hamdanah Utsman, M.Hum., yang dinikahinya pada 1987, Prof. Halim membangun keluarga sekaligus menanamkan nilai pendidikan kepada empat anaknya.

Langkahnya di dunia akademik dimulai dari Fakultas Tarbiyah IAIN Jember. Bahkan sebelum resmi menyandang gelar sarjana pada 1987, ia sudah dipercaya menjadi asisten dosen. Peran itu menjadi titik awal perjalanan intelektual yang terus berkembang.

Semangat belajarnya membawanya ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk menempuh studi pascasarjana pada 1988, lalu meraih gelar doktor yang semakin mengokohkan posisinya sebagai akademisi. Sejak kembali ke Jember pada awal 1990-an, ia aktif mengajar dan mengembangkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi Islam.

Tak hanya mengajar, Prof. Halim juga dikenal sebagai perintis sejumlah institusi pendidikan. Dari Situbondo hingga Banyuwangi, bahkan hingga Nusa Tenggara Barat, jejaknya tertanam dalam pendirian dan pengembangan kampus-kampus keagamaan. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi jalan membangun peradaban.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut