get app
inews
Aa Text
Read Next : Sukses Tekan Bansos Salah Sasaran, Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya Hampir 100 Persen

Heboh Kasus Bullying di Sekolah Surabaya, Siswa Paksa Temannya Makan dari Lantai, Ini Temuan DPRD

Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:22 WIB
header img
Kasus bullying di Surabaya terungkap setelah seorang siswa mencekik temannya dan memaksa memakan makanan yang jatuh. DPRD meminta pendampingan psikologis dan perlindungan anak diperkuat. Foto ilustrasi/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kasus perundungan atau bullying kembali menjadi sorotan di Kota Surabaya. Seorang siswa sekolah dasar diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya dengan cara mencekik dan memaksa korban memakan makanan yang telah terjatuh ke lantai.

Peristiwa yang mengundang perhatian publik tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi D DPRD Kota Surabaya bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dinas Pendidikan Kota Surabaya, pihak sekolah Elyon Christian School, serta orang tua siswa yang diduga menjadi pelaku.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam forum tersebut, insiden bermula ketika makanan milik siswa berinisial R tidak sengaja tersenggol oleh temannya hingga jatuh ke lantai. Kondisi itu memicu emosi R yang kemudian melakukan tindakan agresif dengan mencekik temannya dan memaksa korban memakan makanan yang sudah terjatuh.

Pihak sekolah mengaku telah mengambil langkah penanganan awal dengan memanggil orang tua siswa serta memberikan Surat Peringatan (SP) kedua kepada R. Selain itu, sekolah juga merekomendasikan adanya guru pendamping khusus atau shadow teacher untuk membantu proses pembelajaran sekaligus pengawasan terhadap siswa selama berada di lingkungan sekolah.

Dalam rapat tersebut, orang tua R, Bodhiya Wijaya Mulya, menjelaskan bahwa putranya telah menjalani pemeriksaan psikologis. Dari hasil konsultasi awal, anaknya diduga mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sehingga membutuhkan penanganan dan lingkungan belajar yang lebih sesuai.

Menurut Bodhiya, psikolog bahkan menyarankan agar anaknya dipindahkan ke sekolah yang dinilai mampu memberikan dukungan yang lebih tepat sesuai kebutuhannya. Namun, keterbatasan ekonomi menjadi kendala bagi keluarga untuk memenuhi rekomendasi tersebut, termasuk penyediaan guru pendamping khusus.

"Kami masih mencari jalan terbaik untuk anak kami. Selama ini sejak Play Group hingga beberapa tahun bersekolah di Elyon, tidak pernah ada masalah yang berarti. Perubahan perilaku ini juga membuat kami sebagai orang tua bertanya-tanya," ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut