Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup
Ambisi delapan persen dan persoalan kredibilitas
Indonesia tentu tidak perlu takut mempunyai ambisi besar. Target pertumbuhan mendekati delapan persen dapat menjadi stretch target yang mendorong pemerintah bekerja lebih keras melakukan reformasi. Yang perlu dihindari adalah ketika target berubah dari instrumen mobilisasi menjadi angka yang harus dipertahankan tanpa hubungan yang cukup kuat dengan kapasitas ekonomi untuk mencapainya.
Survei LPEM menunjukkan 43 dari 63 ekonom atau 68 persen menempatkan pencapaian pertumbuhan mendekati delapan persen sebagai salah satu agenda pemerintah yang paling berisiko tidak memenuhi ekspektasi. Keraguan bahkan muncul terhadap horizon yang lebih dekat: 37 ekonom atau 59 persen menilai asumsi pertumbuhan enam persen dalam RAPBN 2027 sebagai asumsi makroekonomi yang paling sulit dicapai.
Angka tersebut tidak seharusnya dibaca sebagai argumentasi agar Indonesia menerima pertumbuhan rendah. Justru sebaliknya. Jika ingin keluar dari lintasan pertumbuhan sekitar lima persen menuju enam, tujuh, bahkan delapan persen, kebijakan ekonomi tidak dapat sekadar memperbesar mesin yang sama. Kapasitas produktifnya harus berubah.
Pertumbuhan delapan persen membutuhkan kenaikan investasi produktif, peningkatan produktivitas tenaga kerja, kualitas pendidikan dan keterampilan yang lebih baik, infrastruktur yang efisien, industrialisasi bernilai tambah tinggi, peningkatan partisipasi angkatan kerja, kepastian hukum, birokrasi yang lebih sederhana, serta institusi yang membuat modal berani mengambil risiko dalam jangka panjang.
Tanpa perubahan pada sisi penawaran tersebut, dorongan fiskal dan konsumsi dapat menghasilkan pertumbuhan sesaat, tetapi juga berpotensi muncul kembali dalam bentuk tekanan inflasi, defisit, impor, atau pelemahan stabilitas makroekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan tinggi harus diproduksi, bukan diumumkan.
Editor: Arif Ardliyanto