Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Lari Bersama Jadi Cara Menyenangkan Memulai Kebiasaan Sehat
Advertisement . Scroll to see content

Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:21 WIB
  • author OPINI
Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup
Guru Besar UNESA, Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS. (Foto : istimewa).

Belanja pemerintah bukan persoalan besar-kecilnya anggaran. 

Temuan lain yang patut direnungkan adalah penilaian terhadap kebijakan fiskal. Dari 63 ekonom yang disurvei, hanya lima yang menilai kebijakan fiskal saat ini efektif dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi; 32 responden menilainya tidak efektif atau sangat tidak efektif, sedangkan 26 responden melihatnya tidak memberikan dampak. Skor rata-ratanya berada pada -0,60 dan praktis tidak membaik dibandingkan survei semester sebelumnya.

Temuan ini tidak harus diterjemahkan sebagai seruan untuk melakukan penghematan secara membabi buta. Kebijakan fiskal justru mempunyai fungsi penting ketika ekonomi membutuhkan investasi publik, perlindungan sosial, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan dukungan terhadap transformasi struktural. Persoalan yang lebih relevan adalah kualitas setiap rupiah yang dibelanjakan.

Program pemerintah seharusnya dinilai bukan hanya dari besarnya anggaran yang berhasil dicairkan, melainkan dari outcome yang dihasilkan. Berapa tambahan produktivitas yang muncul? Berapa pekerjaan yang tercipta? Apakah kualitas sumber daya manusia meningkat? Apakah biaya logistik turun? Apakah investasi swasta ikut bergerak? Apakah manfaat sosial yang dihasilkan lebih besar daripada biaya fiskalnya?

Pendekatan seperti ini sangat penting ketika ruang fiskal tidak tak terbatas dan banyak program besar berjalan secara bersamaan. Bahkan survei LPEM memperlihatkan bahwa 86 persen responden menempatkan Makan Bergizi Gratis dalam kapasitasnya sebagai motor pertumbuhan ekonomi sebagai agenda yang berisiko tidak memenuhi ekspektasi, sementara 76 persen menyampaikan kekhawatiran serupa terhadap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Kritik tersebut tidak otomatis berarti tujuan sosial program-program tersebut keliru. Program gizi, misalnya, dapat mempunyai manfaat jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia yang tidak sepenuhnya tertangkap dalam pertumbuhan PDB jangka pendek. Justru karena manfaat sosialnya penting, evaluasinya harus menggunakan ukuran yang tepat. Program kesehatan dan gizi tidak perlu dipaksakan menjadi mesin pertumbuhan jangka pendek apabila nilai utamanya memang berada pada perbaikan kesehatan, kemampuan belajar dan produktivitas generasi mendatang.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut